Kamis, 01 Oktober 2015
Tugas bahasa indonesia
19.52
No comments
1.Peranan dan Fungsi Bahasa
A.Pengertian Bahasa
Apa itu bahasa? Basaha merupakan suatu bentuk alat
komunikasi manusia yang berupa lambang bunyi melalui alat ucap, dimana setiap
suara yang dikeluarkannya memiliki arti.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahasa dinyatakan
sebagai sistem bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat
untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri.
B.Aspek
Yang Ada Dalam Bahasa
Ada beberapa aspek dalam bahasa yaitu aspek fisik
dan aspek sosial
Aspek Fisik Bahasa :
Aspek fisik bahasa pada dasarnya mencakup tiga
aspek.
1.Bagaimana
bunyi itu dihasilkan (aspek produksi).
2. Bagaimana ciri – ciri bunyi bahasa yang diujarkan
(aspek akustis).
3.Bagaimana bunyi bahasa itu dipahami melalui indra
pendengaran (aspek persepsi bunyi bahasa).
Aspek Sosial Bahasa :
Bahasa mempunyai variasi dan memiliki ragam. Di
dalam lingkungan masyarakat, ada bahasa yang digunakan dan memperlihatkan ciri
keakraban atau keintiman. Bahasa yang ditandai bentuk dan pilihan kata akrab
seperti gue, loe, bete. Berikut termasuk ke dalam ragam intim. Ragam berikutnya
dikenal sebagai ragam konsultatif, yang merupakan ragam bahasa yang digunakan
pada saat guru mengajar di kelas. Cirinya berbeda dengan ragam formal atau
resmi. Ragam lain adalah bahasa yang ditandai ujaran – ujaran baku dan beku
sebagaimana yang terdengar dalam acara ritual dan seremonial.
C.Fungsi
Bahasa
Bahasa selain berfungsi sebagai alat komunikasi
manusia, sarana penyampaian informasi, mengutarakan pikiran, perasaan maupun
gagasan, bahasa juga memiliki beberapa fungsi lainnya seperti :
Untuk tujuan praktis : mengadakan hubungan dalam
pergaulan sehari-hari.
Untuk tujuan artistik : manusia mengolah dan
menggunakan bahasa dengan seindah-indahnya guna pemuasan rasa estetis manusia.
Sebagai kunci mempelajari pengetahuan-pengetahuan
lain, di luar pengetahuan kebahasaan.
Untuk mempelajari naskah-naskah tua guna menyelidiki
latar belakang sejarah manusia, selama kebudayaan dan adat-istiadat, serta
perkembangan bahasa itu sendiri (tujuan filologis).
Sebagai alat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan,
karena tanpa adanya bahasa, maka pengembangan IPTEK pun tidak dapat tumbuh dan
berkembang.
2.Ragam dan Laras Bahasa
A.Pengertian Ragam dan Laras Bahasa
Pengertian Ragam Bahasa
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut
pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan
pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara
(Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang
baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di
dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana
resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam
bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Pengertian Laras Bahasa
laras bahasa adalah kesesuaian antara bahasa dan
pemakaianya.dalam hal ini kita mengenal iklan, laras ilmiah,laras populer,laras
featue,laras komik,laras sastra, yang masih dapat di bagi atas laras cerpen,
laras puisi,laras novel, dan sebagainya.
B.Hal
Hal Yang Berhubungan Dengan Ragam Dan Laras Bahasa
1. Hal yang berhubungan dengan penutur/ragam dapat
dibedakan seperti berikut.
a. Latar belakang daerah penutur. Ragam bahasa
Indonesia yang
dipengaruhi oleh latar belakang daerah penuturnya
menimbulkan
ragam daerah atau dialek. Dialek adalah cara
berbahasa Indonesia
yang diwarnai oleh karakter bahasa daerah yang masih
melekat
pada penuturnya.
b. Latar belakang pendidikan penutur. Berdasarkan
latar belakang
pendidikan penutur, timbul ragam yang berlafal baku
dan yang
tidak berlafal baku khususnya dalam pengucapan
kosakata yang
berasal dari unsur serapan asing. Kaum berpendidikan
umumnya
melafalkan sesuai dengan lafal baku. Namun, untuk
yang kurang
atau tidak berpendidikan, pelafalan diucapkan tidak
tepat atau
tidak baku.
c. Situasi pemakaian, sikap, dan hubungan sosial
penutur.
Berdasarkan hal ini, timbul ragam formal,
semiformal, dan
nonformal. Ragam formal digunakan pada situasi resmi
atau
formal, seperti di kantor, dalam rapat, seminar,
atau acara-acara
kenegaraan. Ragam formal menggunakan kosakata baku
dan
kalimatnya terstruktur lengkap. Ragam formal juga
dipakai jika
penutur berbicara pada orang yang disegani atau
dihormati,
misalnya pimpinan perusahaan.
Ragam semiformal dan nonformal biasa dipakai pada
situasi tidak
resmi seperti di warung, di kantin, di pasar, pada
situasi santai, dan
akrab.
d. Ruang lingkup pemakaian atau pokok persoalan yang
dibicarakan
di lingkungan kelompok penutur. Banyak persoalan
yang dapat
menjadi topik pembicaraan dalam kehidupan
sehari-hari. Saat
membicarakan topik tertentu, seseorang akan
menggunakan
kosakata kajian atau khusus yang berhubungan dengan
topik
pembicaraan tersebut.
Beberapa contoh ragam yang merupakan laras
bahasa:
Wacana
tentang teknologi komunikasi:
Banyak situs internet baik di luar maupun di dalam
negeri yang
menyediakan fasilitas ruang obrolan (chatting room)
ini. Salah satu
yang cukup populer di Indonesia adalah milik
detik.com. Agar
percakapan aman dari umum, chatter dapat membuat web
pribadi.
Pembuatannya dapat gratis melalui fasilitas
NBCi.com.
Wacana
yang berhubungan dengan persoalan kesehatan:
Penyakit chikungunya diakibatkan oleh virus yang
ditularkan oleh
nyamuk Aedes aegypti. Virus ini membuat penderita
mengalami
demam tinggi selama lima hari. Setelah mengalami
masa inkubasi
selama tiga hari hingga dua belas hari, penderita
akan jatuh sakit.
Selain demam, penderita juga akan mengalami rasa
ngilu pada
otot, mual hingga muntah.
Wacana
surat kabar:
Lima siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Bina
Taruna,
Purwakarta, tewas akibat truk yang mereka tumpangi
terguling di
kawasan Waduk Cirata, Kabupaten Purwakarta, Jawa
Barat, Rabu
(9/5) sekitar pukul 13.30. Para siswa tersebut
menumpang truk usai
berekreasi ke Waduk Cirata setelah merampungkan
ujian.
Wacana
bergaya sastra:
Grace mengambil payung dari bawah jok tempat duduk
dan
beranjak keluar. Dari arah lapangan, murid-murid
dengan baju
olahraga enggan berteduh. Pakaian mereka sudah sangat
kuyup,
tetapi semangat mereka untuk bermain basket masih
menyala
dalam hujan. Beberapa anak yang tidak bermain
bersorak–sorai
dan bertepuk tangan sembari menyipratkan air yang
berkubang di
tanah dengan kaki mereka.
Sabtu, 06 Juni 2015
MENGANALISA KASUS DALAM ORGANISASI
21.25
No comments
KASUS
– KASUS YANG TERJADI DALAM ORGANISASI
Koordinasi
Dalam Program Kerja.
Dalam sebuah organisasi
biasa nyakita banya sekai menjumpai masalah-masalah kecil yang berefek besar
pada organisasi tersebut.Masalah yang sebenarnya sepele misalnya kesalah
pahaman antar anggota organisasi dan mungkin juga miss communication yang nantinya
berimbas pada rusaknya atau gagalnya suatu acara yang sudah direncanakan
sebelumnya.
Kasus seperti ini akan menyebabkan sebagian anggota
mengerjakan tugasnya sesuai prosedur dan setengahnya lagi melenceng dengan apa sudah
di rencanakan.Dalam hal ini mengakibatkan rasa ketidak adilan antar anggota
organisasi.Apabila perselisihan ini terjadi pada ketua organisasinya dapat
berefek fatal,seperti hancurnya organisasi tersebut baik dalam skala kecil
maupun dalam skala besar.Padahal seharusnya pemimpin harus dapat menjaga ikatan
kebersamaan antar anggota agar terjalin komunikasi yang baik antar anggota
sehingga organisasi dapat berjalan dengan baik dan dapat menghasilkan
kegiatan-kegiatan yang berkualitas bagi masyarakat.
Recruitment
Di dalam sebuah
organisasi pencarian anggota baru juga berarti,karena anggota organisasi ini
lah kedepannya yang akan menentukan bagaimana susksesnya suatu organisasi.Bagaimana
suatu tugas di kerjakan oleh beberapa orang sehingga dapat mempermudah suatu
pekerjaan dan menghemat waktu kerjanya juga.
Mempertahankan
kader-kader.
Mempertahankan
kader-kader organisasi jauh lebih sulit dari pada merekrutnya.Jika suatu
organisasi sudah terdapat perselisihan dan mengakibatkan anggotanya tidak
nyaman dalam organisasi tersebut tidak menutup kemungkinan anggotanya
satu-persatu akan meninggalkan organisasi yang berujung kepada hancurnya
organisasi tersebut.
Contoh kasus dalam sebuah organisasi:
Koperasi sebagai gerakan ekonomi rakyat,
dan merupakan salah satu pilar ekonomi, selayaknya perlu mendapat perhatian
serius dari pemerintah. Di sisi lain, salah satu upaya pemerintah dalam
mengurangi pengangguran dan mengentaskan kemiskinan dilakukan melalui
program-program pemberdayaan ekonomi rakyat. Dengan demikian, melalui
pemberdayaan koperasi diharapkan akan mendukung upaya pemerintah tersebut.
Dalam upayanya, pemerintah dalam hal ini Kementerian Negara Koperasi dan Usaha
Kecil dan Menengah dituntut untuk dapat menghasilkan program dan kebijakan yang
dapat mendukung tumbuh dan berkembangnya koperasi.
Risiko merupakan
bahaya, risiko adalah ancaman atau kemungkinan suatu tindakan atau kejadian
yang menimbulkan dampak yang berlawanan dengan tujuan yang ingin dicapai. Namun
demikian risiko juga harus dipandang sebagai peluang, yang dipandang berlawanan
dengan tujuan yang ingin dicapai. Jadi kata kuncinya adalah tujuan dan dampak
pada sisi yang berlawanan.
Dengan kata lain risiko
adalah probabiltas bahwa “Baik” atau “Buruk” yang mungkin terjadi yang akan
berdampak terhadap tujuan yang ingin kita capai. Untuk itu risiko perlu kita
kelola dengan baik melalui proses yang logis dan sitematik dalam identifikasi,
kuantifikasi, menentukan sikap, menetapkan solusi serta memonitor dan pelaporan
risiko yang berlangsung pada setiap aktivitas atau proses atau yang biasa kita
kenal dengan manajemen risiko, kembali pada perkembangan koperasi, walaupun
mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan Koperasi senantiasa atau
sering kali terganjal oleh sejumlah masalah klasik, diantaranya:
1.Lemahnya partisipasi anggota
2. Kurangnya permodalan
3. Pemanfaatan pelayanan
4. Lemahnya pengambilan keputusan
5. Lemahnya Pengawasan
6. Manajemen Resiko
2. Kurangnya permodalan
3. Pemanfaatan pelayanan
4. Lemahnya pengambilan keputusan
5. Lemahnya Pengawasan
6. Manajemen Resiko
Masalah
– masalah tersebut diatas merupakan potensi risiko yang yang tampak dan
teridentifikasi, sehingga berangkat dari permasalahan umum tersebut Koperasi
seharusnya sudah mampu melakukan mitigasi risiko atas permasalahan tersebut
diatas. Selanjutnya bagi Koperasi yang bergerak dalam usaha simpan pinjam
merupakan industri yang sarat dengan risiko. Koperasi kredit sebenarnya adalah
miniatur dari perbankan. Yang dikelola hampir sama, yakni uang masyarakat
(anggota koperasi) dan kemudian menyalurkan dalam bentuk pinjaman kepada
masyarakat (anggota koperasi) yang membutuhkan.
Dengan
risiko tersebut maka sudah selayaknya jika Koperasi kredit menerapkan konsep
manajemen risiko, sebagai konsekuensi dari bisnis yang penuh dengan risiko.
Artinya risiko yang mungkin timbul dimitigasi dengan cara menerapkan manajemen
risiko di semua lini dan bidang. Hal ini menunjukan bahwa pengurus dan
pengelola Koperasi kredit sudah selayaknya memiliki kemampuan dalam hal
manajemen risiko atau sudah mengikuti program sertifikasi manajemen risiko.
Tentunya konsep yang ditawarkan disesuaikan dengan tingkat risiko yang melekat
pada bisnis koperasi.
Manajemen
Risiko Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk memperkecil ruang dan
kesempatan para pembobol koperasi untuk melancarkan aksinya adalah dengan,
memberlakukan manajemen risiko dalam praktek berkoperasi. Masalah ini
sebenarnya masalah klise yang sudah dicoba dipecahkan jauh hari sebelum
meledaknya berbagai kasus di koperasi. Fenomena ini tentunya sejalan dengan
rencana penataan modal koperasi, yang seharusnya juga disesuaikan dengan
kemajuan bisnis Koperasi kredit yang bersangkutan. Semua risiko yang muncul di
balik gemerlapnya bisnis Koperasi kredit, harus bisa ditutup dengan modal
koperasi. Itu berarti manajemen risiko merupakan back bone menuju koperasi yang
sehat.
Maklum,
pengalaman tidak menyenangkan yang menimpa beberapa koperasi memperlihatkan
bahwa persoalan manajemen risiko tidak bisa dianggap enteng. Pengalaman memberi
pelajaran berharga bahwa pengelolaan risiko yang buruk dapat membahayakan
kelangsungan koperasi. Pertanyaannya, risiko apa saja yang harus di-cover oleh
koperasi? Faktor risiko yang melekat pada bisnis koperasi khususnya Koperasi
kredit, jika dikaji lebih jauh, ternyata jumlahnya sangat banyak (beragam),
diantaranya :
1. Risiko Kredit, risiko ini didefinisikan sebagai
risiko kerugian sehubungan dengan pihak peminjam tidak dapat dan atau tidak mau
memenuhi kewajiban untuk membayar kembali dana yang dipinjamkannya secara penuh
pada saat jatuh tempo atau sesudahnya.
2. Risiko Likuiditas, risiko likuiditas adalah
risiko yang disebabkan Koperasi tidak mampu memenuhi kewajibannya yang telah
jatuh tempo.
3. Risiko Operasional, risiko operasional
didefinisikan sebagai resiko kerugian atau ketidakcukupan proses internal,
sumber daya manusia dan sistem yang gagal atau dari peristiwa eksternal.
4. Risiko Bisnis, risiko bisnis adalah risiko yang
terkait dengan posisi persaingan antar Koperasi dan prospek keberhasilan
Koperasi dalam perubahan pasar.
5. Risiko Strategik, risiko strategik adalah risiko
yang terkait dengan keputusan jangka panjang yang dibuat oleh pengurus dan
pengelola.
6. Risiko Reputasional, resiko kerusakan pada
Koperasi yang diakibatkan dari hasil opnini public yang negative.
7. Risiko Legal
8. Risiko Politik
9. Risiko Kepatuhan
ANALISA PERMASALAHAN dI ATAS:
1.Dari contoh di atas partiipasi anggota koperasi
kurang,hal ini dapat tejadi mungkin karena kurang baik nya pelayanan petugas
koperasi terhadap masyarakat,dan bisa juga kurangnya pengetahuan masyarakat
tentang faslitas yang di berikan koperasi.
2.Kuragnya Permodalan,kurangnya modal koperasi dapat terjadi karena anggota koperasi yang
sedikit sehingga uang sumbangan
sukarelanya jadi sedikit.
3.Pemanfaatan pelayanan,layanan petugas koperasi
juga berpengaruh terhadap lama bertahannya suatu koperasi.Jika pelayanan
petugas koperasi yang baik dan proses pinjam meminjamnya cepat tidak menutup
kemungkinan banyak anggota yang mau berpartisipasi untuk menjadi anggota
koperasi dan begitu juga sebaliknya.
4.Lemahnya Pengambilan Keputusan,pengambilan
keputusan dalam koperasi memang berjalan lama,karena harus melalui beberapa
tahap.Mengumpulkan anggota koperasi,musyawarah untuk menetapkan suatu
keputusan,baru kemudian menetapkan hasil musyawarah.Dalam hal ini kadang masih
terdapat campur tangan pribadi antar pihak.
5.Lemahnya Pengawasan,hal ini terjadi karena dalam
koperasi biasanya banyak yang harus di urus sehingga tidak ada tim khusus yang
mengawasi koperasi tersebut.Jalannya koperasi hanya bisa di lihat dari rapat
tahunan anggota koperasi.Yang dalam hal ini data nya dapat di manipulasi oleh
petugas koperasi karena tidak kurangnya
pengawasan tadi.
6.Manajemen Resiko,Biasanyya dalam koperasi jarang
terdpat resiko yang terlalu besar.Tetapi sebaiknya ada manajemen resiko nya
untuk meminimalisir kerugian yang mungkin saja akan terjadi.
Dari
uraian di atas manajemen resiko dalam koperasi di perlukan untuk meminimalisir
kemungkinan kerugian yang akan terjadi dalam sebuah koperasi.
Referensi:
Minggu, 26 April 2015
Sabtu, 28 Maret 2015
tugas softskill
18.35
No comments
Pengaruh
Inflasi Terhadap Pengangguran di Indonesia
Inflasi dan pengangguran tidak dapat di
pisahkan lagi dari perekonomian
suatu negara . Ada beberapa alasan yang kuat yang mendasarinya ,bagaimana
kedua faktor tersebut menjadi acuan kemakmuran dan kondisi perekonomian suatu negara,maka
dari pada itu inflasi dan pengangguran menjadi masalah yang cukup penting dalam
suatu negara.inflasi menjadi acuan
stabil atau tidaknya perekonomian suatu bangsa.Salah satu ciri dari inflasi
sendiri adalah dengan naiknya kebutuhan pokok seperti sembako dll.Biasanya hal
itu terjadi akibat adanya perang atau memang langkanya barang tersebut di
pasaran.Inflasi itu sendiri pernah di alami oleh bangsa Indonesia ketika masa
pemerintahan ir.Soekarno atau
orde lama.Pada saat itu bangsa Indonesia mengalami inflasi yang sangat tinggi
yaitu menapai 650%,akibatnya banyaknya uang & jenis mata uang yang beredar
di masyarakat.Akhirnya pemerintah mengambil keputusan hanya meberlakukan tiga
jenis mata uang yaitu De Javasue Bank,mata uang pemerintah Hindia Belanda dan
mata uang pendudukan Jepang. Pada masa itu pemerintah terpaksa mengambil
keputusan untuk pertama kalinya Senering yaitu menurunkan nilai riil
uang.Faktor pemicu utama terjadinya inflasi pada masa itu adalah kondisi
perekonomian Indonesia yang masih belum stabil dikarenakan Indonesia belum
merdeka di tambah lagi serangan dari agresi militer yang di lancarkan oleh
sekutu.Pada masa orde baru yang di pimpin oeh Soeharto Seiring berjalannya
waktu kondisi perekonomian indonesia berangsur-angsur membaik dengan menurunkan
angka inflasi dari 650% menjadi 15% dalam waktu kurang dari dua tahun.Hal
tersebut dapat terjadi dengan cara mengambil beberapa kebijakan sehingga
pembangunan di Indonesia menjadi maju di bawah pemeritahan orde baru.Walaupun
begitu Indonesia sempat mengalami krisis lagi pada tahun 1998 dan 2008,tetapi
bangsa indonesia mampu bertahan walaupun pada saat itu inflasinya mencapai 11%.
Di bawah ini data jumlah penduduk,angkatan kerja di sertai dengan tingkat
pengangguran di indonesia dalam beberapa tahun berikut:
Pada tabel tersebut terlihat bahwa
tingkat pengangguran di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami
peningkatan.Pengangguran juga dapat terjadi karena skill/keahlian dan
pendidikan dari masyarakat di indonesia masih belum terlalu bagus.Mungkin ada
beberapa diantara masyarakat indonesia yang pintar,namun jika yang pintar
tersebut hanya beberapa tidak mampu membawa rakyat indonesia menjadi bangsa
dengan perekonomian yang baik.
Pengangguran memperlihatkan tingkat kesejahteraan suatu negara.Semakin
tinggi tingkat pengangguran suatu negara maka semakin rendah tingkat
kesejahteraan ekonomi negara tersebut.Indonesia termasuk negara dengan jumlah
penduduk terbanyak oleh sebab itu banyaknya jumlah tenaga kerja tetapi jumlah
lapangan pekerjaan sedikit sehingga menyebabkan banyaknya jumlah pengangguran
diIndonesia.Pemerintah sudah melakukan baebagai cara untuk menekan jumlah
pengangguran dengan cara menerik investor asing untuk menanamkan modal di
indonesia.Namun satu hal yang pasti pengangguran dan inflasi memiliki sifat
yang berlawanan.Jika pemerintah menarik investor asing ke indonesia untuk
menekan tingkat pengangguran,maka pemerintah juga harus siap dihadapkan dengan
tingginya inflasi yang akan di hadapi.
Begitu pun sebaliknya pemerintah tidak bisa menekan inflasi menjadinol persen ataupun pengangguran menjadi nol persen.
Jadi keduanya memiliki efek yang berbeda satu sama lain jika dipaksakan
untuk ditekan dengan kebijakan apapun.
Inflasi merupakan kecenderungan kenaikan harga barang
secara terus menerus.Jadi jika kenaikan hanya satu jenis barang saja tidak dapat disebut dengan
inflasi,kecuali dengan kenaikan barang tersebut mempengaruhi naiknya harga
barang lain.
Ada 3 kriteria yang di harus di penuhi
agar dapat dikatakan sebagai inflasi:
1.Kenaikan harga barang.
2.Barang tersebut bersifat umum.
3.Kenaikan tersebut berlangsung secara terus-menerus.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya
inflasi adalah sebagai berikut:
1. Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa.
2.
Tuntutan upah dari pekerja.
3.
Kenaikan impor barang.
4.
Penambahan penawaran uang dengan
cara mencetak uang baru.
Kekacauan politik dan ekonomi seperti yang pernah terjadi di Indonesia
tahun 1998 mengakibatkan angka inflasi
diindonesia mencapai 70%.
http://www.scribd.com/doc/149293103/Analisis-Pengaruh-Tingkat-Inflasi-Terhadap-Pengangguran#scribd
Langganan:
Postingan (Atom)










