Sabtu, 03 Mei 2014
Asal mula danau maninjau
06.25
No comments
ASAL MULA
DANAU MANINJAU
Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan
Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan
luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau
terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat. Menurut
cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung berapi yang di puncaknya
terdapat sebuah kawah yang luas. Oleh karena ulah manusia, gunung berapi itu
meletus dan membentuk sebuah danau yang luas. Apa gerangan yang menyebabkan
gunung berapi itu meletus dan berubah menjadi danau? Kisahnya dapat Anda ikuti
dalam cerita Asal Usul Danau Maninjau berikut ini!
Alkisah, di sebuah daerah di Sumatra Barat ada sebuah gunung berapi yang
amat tinggi bernama Gunung Tinjau. Di puncaknya terdapat sebuah kawah yang
luas, dan di kakinya terdapat beberapa perkampungan. Penduduknya hidup makmur
dan sejahtera, karena mereka sangat rajin bertani. Di samping itu, tanah yang
ada di sekitar Gunung Tinjau amat subur, karena sering mendapat pupuk alami
berupa abu gunung.
Di salah satu perkampungan di kaki Gunung Tinjau itu tinggal sepuluh
orang bersaudara yang terdiri dari sembilan lelaki dan seorang perempuan.
Penduduk sekitar biasa memanggil mereka Bujang Sembilan. Kesepuluh orang
bersaudara tersebut adalah Kukuban, Kudun, Bayua, Malintang, Galapuang, Balok,
Batang, Bayang, dan lelaki termuda bernama Kaciak. Sementara adik mereka yang
paling bungsu adalah seorang perempuan bernama Siti Rasani, akrab dipanggil
Sani. Kedua orangtua mereka sudah lama meninggal, sehingga Kukuban sebagai anak
sulung menjadi kepala rumah tangga. Semua keputusan ada di tangannya.
Kesepuluh bersaudara tersebut tinggal di sebuah rumah peninggalan kedua
orangtua mereka. Untuk memenuhi kebutuhannya, mereka menggarap lahan pertanian
yang cukup luas warisan kedua orangtua mereka. Mereka sangat terampil bertani,
karena mereka rajin membantu ayah dan ibunya ketika keduanya masih hidup. Di
samping itu, mereka juga dibimbing oleh paman mereka yang bernama Datuk
Limbatang, yang akrab mereka panggil Engku.
Datuk Limbatang adalah seorang mamak di kampung itu dan mempunyai seorang
putra yang bernama Giran. Sebagai mamak, Datuk Limbatang memiliki tanggungjawab
besar untuk mendidik dan memerhatikan kehidupan warganya, termasuk kesepuluh
orang kemenakannya tersebut. Untuk itu, setiap dua hari sekali, ia berkunjung
ke rumah Kukuban bersaudara untuk mengajari mereka keterampilan bertani dan
berbagai tata cara adat daerah itu. Tak jarang pula Datuk Limbatang mengajak
istri dan putranya ikut serta bersamanya.
Pada suatu hari, ketika Datuk Limbatang bersama istri dan Giran
berkunjung ke rumah Bujang Sembilan, secara tidak sengaja Sani saling
berpandangan dengan Giran. Rupanya, kedua pemuda dan gadis itu sama-sama
menaruh hati. Giran pun mengajak Sani untuk bertemu di sebuah ladang di pinggir
sungai. Dengan hati berdebar, Giran pun mengungkapkan perasaannya kepada Sani.
“Sudah lama merendam selasih
Barulah kini mau mengembang
Sudah lama kupendam kasih
Barulah kini bertemu pandang”
“Telah lama orang menekat
Membuat baju kebaya lebar
Sudah lama abang terpikat
Hendak bertemu dada berdebar”
“Rupa elok perangaipun cantik
Hidupnya suka berbuat baik
Orang memuji hilir dan mudik
Siapa melihat hati tertarik”
“Dik, Sani! Wajahmu cantik nan elok, perangai baik nan berhati lembut.
Maukah engkau menjadi kekasih Abang?” tanya Giran.
Pertanyaan itu membuat jantung Sani berdetak kencang. Dalam hatinya, ia
juga suka kepada Giran. Maka ia pun membalasnya dengan untaian pantun.
“Buah nangka dari seberang
Sedap sekali dibuat sayur
Sudah lama ku nanti abang
Barulah kini dapat menegur”
“Jika roboh kota Melaka
Papan di Jawa saya tegakkan
Jika sungguh Kanda berkata
Badan dan nyawa saya serahkan”
Alangkah senang hati Giran mendengar jawaban dari Sani. Ia benar-benar
merasa bahagia karena cintahnya bersambut.
Maka sejak itu, Giran dan Sani menjalin hubungan kasih. Pada mulanya,
keduanya berniat untuk menyembunyikan hubungan mereka. Namun karena khawatir
akan menimbulkan fitnah, akhirnya keduanya pun berterus terang kepada keluarga
mereka masing-masing. Mengetahui hal itu, keluarga Giran dan Sani pun merasa
senang dan bahagia, karena hal tersebut dapat mempererat hubungan kekeluargaan
mereka. Sejak menjalin hubungan dengan Sani, Giran seringkali berkunjung ke
rumah Bujang Sembilan. Bahkan, ia sering membantu Bujang Sembilan bekerja di
sawah.
Ketika musim panen tiba, semua penduduk kampung memperoleh hasil yang
melimpah. Untuk merayakan keberhasilan tersebut, para pemuka adat dan seluruh
penduduk bersepakat untuk mengadakan gelanggang perhelatan, yaitu adu
ketangkasan bermain silat. Para pemuda kampung menyambut gembira acara
tersebut. Dengan semangat berapi-api, mereka segera mendaftarkan diri kepada
panitia acara. Tidak ketinggalan pula Kukuban dan Giran turut ambil bagian
dalam acara tersebut.
Pada hari yang telah ditentukan, seluruh peserta berkumpul di sebuah
tanah lapang. Sorak sorai penonton pun terdengar mendukung jagoannya
masing-masing. Beberapa saat kemudian, panitia segera memukul gong pertanda
acara dimulai. Rupanya, Kukuban mendapat giliran pertama tampil bersama seorang
lawannya dari dusun tetangga. Tampak keduanya saling berhadap-hadapan di tengah
arena untuk saling adu ketangkasan. Siapa pun yang menang dalam pertarungan
itu, maka dia akan melawan peserta berikutnya. Ternyata, Kukuban berhasil
mengalahkan lawannya. Setelah itu, peserta berikutnya satu per satu masuk ke
arena gelanggang perhelatan untuk melawan Kukuban, namun belum seorang pun yang
mampu mengalahkannya. Masih tersisa satu peserta lagi yang belum maju, yakni si
Giran. Kini, Kukuban menghadapi lawan yang seimbang.
“Hai, Giran! Majulah kalau berani!” tantang Kukuban.
“Baiklah, Bang! Bersiap-siaplah menerima seranganku!” jawab Giran dan
langsung menyerang Kukuban.
Maka terjadilah pertarungan sengit antara Giran dan Kukuban. Mulanya,
Giran melakukan serangan secara bertubi-tubi ke arah Kububan, namun semua
serangannya mampu dielakkan oleh Kukubun. Beberapa saat kemudian, keadaan jadi
terbalik. Kukuban yang balik menyerang. Ia terus menyerang Giran dengan
jurus-jurus andalannya secara bertubi-tubi. Giran pun terdesak dan kesulitan
menghindari serangannya. Pada saat yang tepat, Kukuban melayangkan sebuah
tendangan keras kaki kirinya ke arah Giran. Giran yang tidak mampu lagi menghindar,
terpaksa menangkisnya dengan kedua tangannya.
“Aduh, sakit…! Kakiku patah!” pekik Kukuban dan langsung berguling di
tanah sambil menjerit kesakitan.
Rupanya, tangkisan Giran itu membuat kaki kirinya patah. Ia pun tidak
mampu lagi melanjutkan pertandingan dan dinyatakan kalah dalam gelanggang
tersebut. Sejak itu, Kukuban merasa kesal dan dendam terhadap Giran karena
merasa telah dipermalukan di depan umum. Namun, dendam tersebut dipendamnya
dalam hati.
Beberapa bulan kemudian, dendam Kukuban yang dipendam dalam hati itu
akhirnya terungkap juga. Hal itu bermula ketika suatu malam, yakni ketika
cahaya purnama menerangi perkampungan sekitar Gunung Tinjau, Datuk Limbatang
bersama istrinya berkunjung ke rumah Bujang Sembilan. Kedatangan orangtua Giran
tersebut bukan untuk mengajari mereka cara bercocok tanam atau tata cara adat,
melainkan ingin menyampaikan pinangan Giran kepada Sani.
“Maaf, Bujang Sembilan! Maksud kedatangan kami kemari ingin lebih
mempererat hubungan kekeluargaan kita,” ungkap Datuk Limbatang.
“Apa maksud, Engku?” tanya si Kudun bingung.
“Iya, Engku! Bukankah hubungan kekeluargaan kita selama ini baik-baik
saja?” sambung Kaciak.
“Memang benar yang kamu katakan itu, Anakku,” jawab Datuk Limbatang yang
sudah menganggap Bujang Sembilan seperti anaknya sendiri.
“Begini, Anak-anakku! Untuk semakin mengeratkan hubungan keluarga kita,
kami bermaksud menikahkan Giran dengan adik bungsu kalian, Siti Rasani,” ungkap
Datuk Limbatang.
“Pada dasarnya, kami juga merasakan hal yang sama, Engku! Kami merasa
senang jika Giran menikah dengan adik kami. Giran adalah pemuda yang baik dan
rajin,” sambut si Kudun.
Namun, baru saja kalimat itu lepas dari mulut si Kudun, tiba-tiba
terdengar suara bentakan yang sangat keras dari Kukuban.
“Tidak! Aku tidak setuju dengan pernikahan mereka! Aku tahu siapa Giran,”
seru Kukuban dengan wajah memerah.
“Dia pemuda sombong, tidak tahu sopan santun dan kurang ajar. Dia tidak
pantas menjadi suami Sani,” tambahnya.
“Mengapa kamu berkata begitu, Anakku? Adakah perkataan atau perilakunya
yang pernah menyinggung perasaanmu?” tanya Datuk Limbatang dengan tenang.
“Ada, Engku! Masih ingatkah tindakan Giran terhadapku di gelanggang
perhelatan beberapa bulan yang lalu? Dia telah mematahkan kaki kiriku dan
sampai sekarang masih ada bekasnya,” jawab Kukuban sambil menyingsingkan celana
panjangnya untuk memperlihatkan bekas kakinya yang patah.
“Oooh, itu!” jawab Datuk Limbatang singkat sambil tersenyum.
“Soal kaki terkilir dan kaki patah, kalah ataupun menang dalam gelanggan
itu hal biasa. Memang begitu kalau bertarung,” ujar Datuk Limbatang.
“Tapi, Engku! Anak Engku telah mempermalukanku di depan orang banyak,”
sambut Kukuban.
“Aku kira Giran tidak bermaksud mempermalukan saudaranya sendiri,” kata
Datuk Limbatang.
“Ah, itu kata Engku, karena ingin membela anak sendiri! Di mana keadilan
Engku sebagai pemimpin adat?” bantah Kukuban sambil menghempaskan tangannya ke
lantai.
Semua yang ada dalam pertemuan itu terdiam. Kedelapan saudaranya tak satu
pun yang berani angkat bicara. Suasana pun menjadi hening dan tegang. Kecuali
Datuk Limbatang, yang terlihat tenang.
“Maaf, Anakku! Aku tidak membela siapa pun. Aku hanya mengatakan
kebenaran. Keadilan harus didasarkan pada kebenaran,” ujar Datuk Limbatang.
“Kebenaran apalagi yang Engku maksud. Bukankah Giran telah nyata-nyata
mencoreng mukaku di tengah keramaian?”
“Ketahuilah, Anakku! Menurut kesaksian banyak orang yang melihat
peristiwa itu, kamu sendiri yang menyerang Giran yang terdesak dengan sebuah
tendangan keras, lalu ditangkis oleh Giran. Tangkisan itulah yang membuat
kakimu patah. Apakah menurutmu menangkis serangan itu perbuatan curang dan
salah?” tanya Datuk Limbatang.
Kukuban hanya terdiam mendengar pertanyaan itu. Walaupun dalam hatinya
mengakui bahwa apa yang dikatakan Datuk Limbatang adalah benar, tetapi karena
hatinya sudah diselimuti perasaan dendam, ia tetap tidak mau menerimanya.
“Terserah Engku kalau tetap mau membela anak sendiri. Tapi, Sani adalah
adik kami. Aku tidak akan menikahkan Sani dengan anak Engku,” kata Kukuban
dengan ketus.
“Baiklah, Anakku! Aku juga tidak akan memaksamu. Tapi, kami berharap
semoga suatu hari nanti keputusan ini dapat berubah,” kata Datuk Limbatang
seraya berpamitan pulang ke rumah bersama istrinya.
Rupanya, Siti Rasani yang berada di dalam kamar mendengar semua
pembicaraan mereka. Ia sangat bersedih mendengar putusan kakak sulungnya itu.
Baginya, Giran adalah calon suami yang ia idam-idamkan selama ini. Sejak
kejadian itu, Sani selalu terlihat murung. Hampir setiap hari ia duduk
termenung memikirkan jalah keluar bagi masalah yang dihadapinya. Begitupula si
Giran, memikirkan hal yang sama. Berhari-hari kedua pasangan kekasih itu
berpikir, namun belum juga menemukan jalan keluar. Akhirnya, keduanya pun
sepakat bertemu di tempat biasanya, yakni di sebuah ladang di tepi sungai,
untuk merundingkan masalah yang sedang mereka hadapi.
“Apa yang harus kita lakukan, Dik?” tanya Giran.
“Entahlah, Bang! Adik juga tidak tahu harus berbuat apa. Semua keputusan
dalam keluarga Adik ada di tangan Bang Kukuban. Sementara dia sangat benci dan
dendam kepada Abang,” jawab Sani sambil menghela nafas panjang.
Beberapa lama mereka berunding di tepi sungai itu, namun belum juga
menemukan jalan keluar. Dengan perasaan kalut, Sani beranjak dari tempat
duduknya. Tiba-tiba sepotong ranting berduri tersangkut pada sarungnya.
“Aduh, sarungku sobek!” teriak Sani kaget.
“Wah, sepertinya pahamu tergores duri. Duduklah Adik, Abang akan
mengobati lukamu itu!” ujar Giran.
Giran pun segera mencari daun obat-obatan di sekitarnya dan meramunya. Setelah
itu, ia membersihkan darah yang keluar dari paha Sani, lalu mengobati lukanya.
Pada saat itulah, tiba-tiba puluhan orang keluar dari balik pepohonan dan
segera mengurung keduanya. Mereka adalah Bujang Sembilan bersama beberapa warga
lainnya.
“Hei, rupanya kalian di sini!” seru Kukuban.
Giran dan Sani pun tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya benar-benar
tidak menyangka jika ada puluhan orang sedang mengintai gerak-gerik mereka.
“Tangkap mereka! Kita bawa mereka ke sidang adat!” perintah Kukuban.
“Ampun, Bang! Kami tidak melakukan apa-apa. Saya hanya mengobati luka
Sani yang terkena duri,” kata Giran.
“Dasar pembohong! Aku melihat sendiri kamu mengusap-usap paha adikku!”
bentak Kukuban.
“Iya benar! Kalian telah melakukan perbuatan terlarang. Kalian harus
dibawa ke sidang adat untuk dihukum,” sambung seorang warga.
Akhirnya, Giran dan Sani digiring ke kampung menuju ke ruang persidangan.
Kukuban bersama kedelapan saudaranya dan beberapa warga lainnya memberi
kesaksian bahwa mereka melihat sendiri perbuatan terlarang yang dilakukan oleh
Giran dan Sani. Meskipun Giran dan Sani telah melakukan pembelaan dan dibantu
oleh Datuk Limbatang, namun persidangan memutuskan bahwa keduanya bersalah
telah melanggar adat yang berlaku di kampung itu. Perbuatan mereka sangat
memalukan dan dapat membawa sial. Maka sebagai hukumannya, keduanya harus
dibuang ke kawah Gunung Tinjau agar kampung tersebut terhindar dari malapetaka.
Keputusan itu pun diumumkan ke seluruh penjuru kampung di sekitar Gunung
Tinjau. Setelah itu, Giran dan Sani diarak menuju ke puncak Gunung Tinjau
dengan tangan terikat di belakang. Sesampainya di pinggir kawah, mata mereka
ditutup dengan kain hitam. Sebelum hukuman dilaksanakan, mereka diberi
kesempatan untuk berbicara.
“Wahai kalian semua, ketahuilah! Kami tidak melakukan perbuatan terlarang
apa pun. Karena itu, kami yakin tidak bersalah,” ucap Giran.
Setelah itu, Giran menengadahkan kedua tanganya ke langit sambil berdoa.
“Ya Tuhan! Mohon dengar dan kabulkan doa kami. Jika kami memang
benar-benar bersalah, hancurkanlah tubuh kami di dalam air kawah gunung yang
panas ini. Akan tetapi, jika kami tidak bersalah, letuskanlah gunung ini dan
kutuk Bujang Sembilan menjadi ikan!”
Usai memanjatkan doa, Giran dan Sani segera melompat ke dalam kawah.
Keduanya pun tenggelam di dalam air kawah. Sebagian orang yang menyaksikan
peristiwa itu diliputi oleh rasa tegang dan cemas. Jika Giran benar-benar tidak
bersalah dan doanya dikabulkan, maka mereka semua akan binasa. Ternyata benar.
Permohonan Giran dikabulkan oleh Tuhan. Beberapa saat berselang, gunung itu
tiba-tiba bergetar dan diikuti letusan yang sangat keras. Lahar panas pun
menyembur keluar dari dalam kawah, mengalir menuju ke perkampungan dan
menghancurkan semua yang dilewatinya. Semua orang berusaha untuk menyelamatkan
diri. Namun, naas nasib mereka. Letusan Gunung Tinjau semakin dahsyat hingga
gunung itu luluh lantak. Tak seorang pun yang selamat. Bujang Sembilan pun
menjelma menjadi ikan.
Demikian cerita Asal Usul Danau Maninjau dari Agam, Sumatra Barat, Indonesia.
Konon, letusan Gunung Tinjau itu menyisakan kawah yang luas dan lama-kelamaan
berubah menjadi danau. Oleh masyarakat sekitar, nama gunung itu kemudian
diabadikan menjadi nama danau, yakni Danau Maninjau. Sementara nama-nama tokoh
yang terlibat dalam peristiwa itu diabadikan menjadi nama nagari di sekitar
Danau Maninjau, seperti Tanjung Sani, Sikudun, Bayua, Koto Malintang, Koto
Kaciak, Sigalapuang, Balok, Kukuban, dan Sungai Batang.
Cerita di atas termasuk kategori legenda yang mengandung pesan-pesan
moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu
pesan moral yang dapat dipetik, yaitu akibat buruk yang ditimbulkan oleh sifat
dendam. Dendam telah menjadikan Kukuban tega menfitnah Giran dan Sani telah
melakukan perbuatan terlarang. Dari hal ini dapat dipetik sebuah pelajaran
bahwa sifat dendam dapat mendorong seseorang berbuat aniaya terhadap orang
lain, demi membalaskan dendamnya. Dalam kehidupan orang Melayu, sifat dendam
ini sangat dipantangkan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
siapa tak tahu kesalahan sendiri,
lambat laun hidupnya keji
kalau suka berdendam kesumat,
alamat hidup akan melarat
Sumber: Buku Cerita Rakyat
http://dongeng.org/cerita-rakyat/asal-usul-danau-maninjau.html
Senin, 28 April 2014
Kita Bangkit
08.24
No comments
KITA BANGKIT
Karya Rezi Delfianti
Terdiam aku di sudut tangisan
Meratapi hantaman kesengsaraan
Kesengsaraan yang menerpa iwa
Membuat aku tertatih di tengah lautan
Kesengsaraan ini
Kucoba bangkit dari tangisan
Tapi aku tak kuasa
Aku hanya bisa tergulung oleh tangisan
Dan terinjak oleh semua keadaan
Keadaan...
Dimana aku tak dapat menyicipi
Manisnya kehidupan
Hanya semburan cemoohan yang q dapat
Cemoohan yang berbondong datang di hadapan
Rasanya....
Aku ingin pergi jauh...
Pergi meninggalkan pahitnya untaian keadaan ini
Tapi......
Aku sudah tak punya arah
Semua arah q telah di telan keadaan
Harapan Kami
08.08
No comments
HARAPAN KAMI
Karya Rezi Delfianti
Suram langit di pagi ini
Seakan menyambut rapuhnya alam
Akan gemercik air yang tak lagi
Terdengan
Hanya hembusan angin kering
Mengabarkan
Tentang alam yang tak lagi bernyanyi
Tentang nurani yang tak lagi peduli
Kami merintih...
Kami terpaku...
Kami larut dalam keadaan...
Keadaan yang belum terlarutkan ini...
Tapi hari ini...
Kami berbaur melarutkan semua...
Tangan...kaki...fikiran ini kan kami
Curahkan...
Curahkan pada alam yang rapuh...
Rapuh akibat tangan yang tak
Beraturan ini
Selasa, 22 April 2014
Tradisi memberikan sesajian pada leluhur
07.20
No comments
TRADISI MEMBERIKAN SESAJIAN PADA LELUHUR
Menyediakan
sesaji atau yang juga dikenal dengan sebutan sesajen sudah sangat melekat dan
akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat muslim di Indonesia .Di mana-mana
dari pelosok sampai di kota-kota besar,tidak saja terbatas dikalangan
masyarakat bawah, masyarakat kalangan atas dan berpendidikanpun telah terbiasa
menyiapkan sesaji berkaitan dengan waktu-waktu atau kegiatan-kegiatan tertentu
yang mereka selenggarakan. Kebanyakan orang merasa belumlah lengkap di dalam
sesuatu pelaksanaan acara tanpa disiapkannya sesaji.Sehingga tidak ada satu
acarapun yang diselenggarakan orang tanpa mempersiapkan sesaji.Sesaji yang
disiapkan orang selain kelengkapan dalam suatu upacara, juga dipersiapan
sebagai bentuk persembahan mereka kepada pohon-pohon besar,kubur-kubur yang
dikeramatkan,batu-batu besar dan gunung sungai dan laut yang dianggap tempat
bersemayamnya para jin.Secara priodik setahun sekali diselenggarakan pemberian
sesaji yang melibatkan seluruh penduduk suatu kampung dengan hajatan dalam
bentuk melarungkan sesaji ketengah sungai atau laut dalam upacara sedekah
laut,oleh masyarakat nelayan di pesisir, sedangkan para petani biasanya secara
bersama-sama menyelenggarakan hajatan sedekah bumi.Menyiapkan sesaji yang dilakukan
oleh sebagian masyarakat disebut-sebut sebagai tradisi warisan para leluhur
yang patut dilestarikan disebabkan adanya keyakinan di dalam pemberian sesaji
tersebut dinilai mengandung nilai-nilai yang sakral yang terkait dengan ibadah
dan kepercayaan.
Sesaji dalam Kosmologi Jawa ada tiga macam bentuk
sesaji,yaitu:
1.Sesaji Selamatan. Sesaji yang ditujukan untuk menyenangkan.
Biasanya dilakukan ketika membuka lahan baru sebagai laku hormat untuk mencegah kecelakaan,ketika terjadi kemarau panjang,wabah penyakit,akan memulai pekerjaan besar seperti: bangun rumah,jembatan,giling tebu,bersih desa,menggali sumur,pindah rumah yang biasa mereka sebut Ngruwat gasulake.Sesaji keselamatan ini dihaturkan utamanya pada indra,danyang desa,punden dan yang diyakini bisa membantu.Juga pada roh-roh halus,hantu,dewa,ulama,para wali bahkan para nabi.Juga yang maha kuasa.Orang jawa meyakini punden dapat membantu,sebab ia telah menanam tumbal yang diberi mantra atau ipat. Dengan sesaji,tuah dari ipat itu akan bertambah-tambah.
2. Sesaji Penulakan.Sesaji yang dihaturkan pada roh-roh jahat agar terhindar dari gangguannya.
Untuk mencegah penyakit orang dewasa diberikan sesaji pada bayu dan baya juga dhengen.Dan untuk melindungi bayi diberikan sesaji pada sawan dan sarap selama sepekan semenjak hari kelahiran.Untuk mencegah penyakit ternak diberikan sesaji pada poto.Bagi yang punya pesugihan memberikan sesaji pada blorong,tuyul,keblek dan lain-lain. dan bagi yang kasmaran memberi sesaji pada comblong.
3. Sesaji Wadima.Sesaji rutinan dengan maksud sebagaimana dua macam sesaji di atas.
Dalam hajatte manten,wadima biasa diberikan saat pasang tarub,sasrahan,widodaren,tigas rekmo,acara manten dan majemukan.Wadima untuk anak adalah saat dirasakan ada benih (ngebor-ebori), hamil tiga bulan (neloni/wilujengan nigani),hamil tujuh bulan (ningkepi/mitoni),sembilan bulan (memelu sedulur),hari kelahiran (brokohan),saat plasenta terputus (puput puser),tiga hari,lima hari (nyepasari).Bagi yang berkecukupan ditambah saat tjuh hari dan sembilan hari,tiga puluh lima hari (nyelapani).Bagi orang yang ingin menambahi,pada telung lapan,lima.tujuh sampai sembilan lapan. hari ke empat puluh mahinum).
Saat usia satu tahun ada tiga acara: tumbuh gigi (anggrauli),mudun lemah (tedah siti),dan yang terakhir nyatuni. Saat manggur gigi,7tahun perempuan,9tahun laki-laki (gusaran),saat khitan (tetak/tetes),menstruasi pertama bagi perempuan yang disebut gelwilada.
Wadima untuk kematian dilakukan sejak hari pertama (surtanah),ketga,ketujuh, keempat puluh,keseratus,pendak setahun dan dua tahun,hari keseribu,pendak tiga tahun sampai pendak delapan tahun (sewindu).Wadima untuk ladang dimulai saat memulai garapan (labuhan),selesai membuka ladang (lebar gawe),waktunya mengairi (mbanyu/angeler),menebar benih (nyebar),menanam (undur-undur),tolak hama,jemangkung,biji mulai berisi (wawratan),biji berisi penuh (ngisen-ngiseni),untuk keselamatan alat dan yang lain (nyadran),akan memanen (metik),mau dimasukkan lumbung (munggah lumbung).Di kebon agung sukodono lumajang,masyarakat mempunyai tradisi khas yang disebut wiwit kebon agung.Berupa rangkaian upacara dan sesaji sepasar (5 hari) menjelang panen.Ada beberapa srono yang dihaturkan dalam upacara tersebut,dan ada sajen khusus yang di letakkan di pojok-pojok sawah.
Waktu-waktu yang utama untuk sesaji rutin ini adalah malam jum'at secara umum. Malam jum'at wage an paing juga baik yang disebut hari gumbrengan:dikhususkan untuk sesajen keselamatan binatang ternak.Malam jum'at kliwon di anggap suci dan dikhususkan untuk nyekar.Juga malam selasa kliwon yang disebut anggoro kasih: hari roh, baik sekali untuk sesaji. Dan yang paling ramai adalah malam jum'at legi.Yakni sesajian untuk semua roh:roh leluhur atau roh jahat.Terkhusus lagi pada malam satu suro.
Pemberian sesaji yang dilakukan oleh sebagian orang-orang adalah dimaksud sebagai bentuk persembahan kepada para makhluk atau roh-roh halus dan para jin, agar para makhluk halus/jin tersebut dapat memberikan perlindungan, memberikan pertolongan dan tidak mengganggu kepada manusia.Sesajen merupakan warisan budaya Hindu dan Budha yang biasa dilakukan untuk memuja para dewa, roh tertentu atau penunggu tempat (pohon, batu, persimpangan) dan lain-lain yang mereka yakini dapat mendatangkan keberuntungan dan menolak kesialan.
1.Sesaji Selamatan. Sesaji yang ditujukan untuk menyenangkan.
Biasanya dilakukan ketika membuka lahan baru sebagai laku hormat untuk mencegah kecelakaan,ketika terjadi kemarau panjang,wabah penyakit,akan memulai pekerjaan besar seperti: bangun rumah,jembatan,giling tebu,bersih desa,menggali sumur,pindah rumah yang biasa mereka sebut Ngruwat gasulake.Sesaji keselamatan ini dihaturkan utamanya pada indra,danyang desa,punden dan yang diyakini bisa membantu.Juga pada roh-roh halus,hantu,dewa,ulama,para wali bahkan para nabi.Juga yang maha kuasa.Orang jawa meyakini punden dapat membantu,sebab ia telah menanam tumbal yang diberi mantra atau ipat. Dengan sesaji,tuah dari ipat itu akan bertambah-tambah.
2. Sesaji Penulakan.Sesaji yang dihaturkan pada roh-roh jahat agar terhindar dari gangguannya.
Untuk mencegah penyakit orang dewasa diberikan sesaji pada bayu dan baya juga dhengen.Dan untuk melindungi bayi diberikan sesaji pada sawan dan sarap selama sepekan semenjak hari kelahiran.Untuk mencegah penyakit ternak diberikan sesaji pada poto.Bagi yang punya pesugihan memberikan sesaji pada blorong,tuyul,keblek dan lain-lain. dan bagi yang kasmaran memberi sesaji pada comblong.
3. Sesaji Wadima.Sesaji rutinan dengan maksud sebagaimana dua macam sesaji di atas.
Dalam hajatte manten,wadima biasa diberikan saat pasang tarub,sasrahan,widodaren,tigas rekmo,acara manten dan majemukan.Wadima untuk anak adalah saat dirasakan ada benih (ngebor-ebori), hamil tiga bulan (neloni/wilujengan nigani),hamil tujuh bulan (ningkepi/mitoni),sembilan bulan (memelu sedulur),hari kelahiran (brokohan),saat plasenta terputus (puput puser),tiga hari,lima hari (nyepasari).Bagi yang berkecukupan ditambah saat tjuh hari dan sembilan hari,tiga puluh lima hari (nyelapani).Bagi orang yang ingin menambahi,pada telung lapan,lima.tujuh sampai sembilan lapan. hari ke empat puluh mahinum).
Saat usia satu tahun ada tiga acara: tumbuh gigi (anggrauli),mudun lemah (tedah siti),dan yang terakhir nyatuni. Saat manggur gigi,7tahun perempuan,9tahun laki-laki (gusaran),saat khitan (tetak/tetes),menstruasi pertama bagi perempuan yang disebut gelwilada.
Wadima untuk kematian dilakukan sejak hari pertama (surtanah),ketga,ketujuh, keempat puluh,keseratus,pendak setahun dan dua tahun,hari keseribu,pendak tiga tahun sampai pendak delapan tahun (sewindu).Wadima untuk ladang dimulai saat memulai garapan (labuhan),selesai membuka ladang (lebar gawe),waktunya mengairi (mbanyu/angeler),menebar benih (nyebar),menanam (undur-undur),tolak hama,jemangkung,biji mulai berisi (wawratan),biji berisi penuh (ngisen-ngiseni),untuk keselamatan alat dan yang lain (nyadran),akan memanen (metik),mau dimasukkan lumbung (munggah lumbung).Di kebon agung sukodono lumajang,masyarakat mempunyai tradisi khas yang disebut wiwit kebon agung.Berupa rangkaian upacara dan sesaji sepasar (5 hari) menjelang panen.Ada beberapa srono yang dihaturkan dalam upacara tersebut,dan ada sajen khusus yang di letakkan di pojok-pojok sawah.
Waktu-waktu yang utama untuk sesaji rutin ini adalah malam jum'at secara umum. Malam jum'at wage an paing juga baik yang disebut hari gumbrengan:dikhususkan untuk sesajen keselamatan binatang ternak.Malam jum'at kliwon di anggap suci dan dikhususkan untuk nyekar.Juga malam selasa kliwon yang disebut anggoro kasih: hari roh, baik sekali untuk sesaji. Dan yang paling ramai adalah malam jum'at legi.Yakni sesajian untuk semua roh:roh leluhur atau roh jahat.Terkhusus lagi pada malam satu suro.
Pemberian sesaji yang dilakukan oleh sebagian orang-orang adalah dimaksud sebagai bentuk persembahan kepada para makhluk atau roh-roh halus dan para jin, agar para makhluk halus/jin tersebut dapat memberikan perlindungan, memberikan pertolongan dan tidak mengganggu kepada manusia.Sesajen merupakan warisan budaya Hindu dan Budha yang biasa dilakukan untuk memuja para dewa, roh tertentu atau penunggu tempat (pohon, batu, persimpangan) dan lain-lain yang mereka yakini dapat mendatangkan keberuntungan dan menolak kesialan.
Minggu, 23 Maret 2014
Budaya makan sirih dan pinang
00.46
No comments
Bangsa yang besar seperti Indonesia ini tentu akan kaya dengan berbagai
budaya daerah. Karena dengan banyaknya suku yang ada. Daerah yang satu dengan
daerah yang lain punya istiadat yang berbeda pula tentang makanan, pakaian,
atau apa saja yang mereka punya di daerah itu, yang dapat
memperkaya kasanah budaya bangsa ini. Contohnya Kebiasaan makan sirih dan
pinang (Areca catechu L) sudah dikenal sejak lama oleh masyarakat
Indonesia.
Tepatnya sekitar abad ke-6 masehi. Kebiasaan tersebut sudah dikenal oleh
masyarakat di Kalimantan sejak lama, tepatnya pada abad ke-9 sampai ke-10
Masehi. Hal tersebut kemudiaan menyebar keseluruh pulau Kalimantan tertuama di
Kalimantan Tengah. Masyarakat Kalteng pada umumnya juga sangat menggemari makan
sirrih pinang. Orang tua sampai ke anak-anak menggemarinya. Namun kebanyakkan
adalah orang tua paruh baya sampai kepada kakek-nenek sangat menyukai makanan
yang satu ini.Bagi sebagian tempat sirih juga digunakan sebagai suatu bahan
untuk mengundang orang diacara perkawinan anaknya.orang yang diundang itu di
suguhi sirih,pinang,gambir,kapur.jika orang tersebut mau mengunyah maka dia
mengambil sirih tersebut lau menguyahnya.setelah selesai barulah orang yang
mengundang tadi menyampaikan maksud kedatangannya.tetapi orang yang di undang
tadi tidak wajib untuk mengunyah sirih,dia bisa menolak jika dia tidak mau
mengunyah sirih dan langsung saja menanyakan maksud kedatangan orang tersebut
kerumahnya.

Biasanya untuk nenek-kakek, mungkin tidak kuat lagi untuk mengunyah sirih pinang maka hal tersebut dapat dilakukani dengan cara ditumbuk terlebih dahulu menggunakan semacam lesung kecil dan penumbuk sampai kira-kira semua bahannya sudah hancur baru dikelurkan lalu dimakan. Warna bibir seseorang yang makan sirih pinang berwarna merah ini karena percampuran antara daun sirih, pinang, kapur, gambir dan sedikit tembakau. Residunya berupa ludah yang berwarna merah dan sisa-sisa serat dari buah pinang. Sirih adalah tanaman tropis yang tumbuh di Madagaskar, Timur Afrika, dan Hindia Barat. Jenis sirih yang terdapat di Semenanjung Malaysia ada empat jenis, yaitu sirih Melayu, sirih Cina, sirih Keling, dan sirih Udang. Sementara pinang berasal dari tanah Malaya (Malaysia).
Untuk pecandu berat sirih pinang biasanya cara untuk mengatasinya dengan cara membawa perlengkapan dalam suatu tempat yang dapat terbuat dari anyaman rotan, kaleng, tas pinggang, dan lain-lain. Semua perlengkapan dimasukkan kedalam wadah tersebut berupa daun sirih, pinang yang sebagian sudah di belah, kapur, daun atau getah gambir, tembakau. Hal tersebut yang menjadi kebiasaan yang berkembang di masyarakat Kalimantan, baik daerah kota sampai ke daerah pedalaman, masyarakat biasa sampai para pejabat pemerintahan, tua muda mengemarinya.

Biasanya untuk nenek-kakek, mungkin tidak kuat lagi untuk mengunyah sirih pinang maka hal tersebut dapat dilakukani dengan cara ditumbuk terlebih dahulu menggunakan semacam lesung kecil dan penumbuk sampai kira-kira semua bahannya sudah hancur baru dikelurkan lalu dimakan. Warna bibir seseorang yang makan sirih pinang berwarna merah ini karena percampuran antara daun sirih, pinang, kapur, gambir dan sedikit tembakau. Residunya berupa ludah yang berwarna merah dan sisa-sisa serat dari buah pinang. Sirih adalah tanaman tropis yang tumbuh di Madagaskar, Timur Afrika, dan Hindia Barat. Jenis sirih yang terdapat di Semenanjung Malaysia ada empat jenis, yaitu sirih Melayu, sirih Cina, sirih Keling, dan sirih Udang. Sementara pinang berasal dari tanah Malaya (Malaysia).
Untuk pecandu berat sirih pinang biasanya cara untuk mengatasinya dengan cara membawa perlengkapan dalam suatu tempat yang dapat terbuat dari anyaman rotan, kaleng, tas pinggang, dan lain-lain. Semua perlengkapan dimasukkan kedalam wadah tersebut berupa daun sirih, pinang yang sebagian sudah di belah, kapur, daun atau getah gambir, tembakau. Hal tersebut yang menjadi kebiasaan yang berkembang di masyarakat Kalimantan, baik daerah kota sampai ke daerah pedalaman, masyarakat biasa sampai para pejabat pemerintahan, tua muda mengemarinya.
Apakah makan sirih dan
pinang memiliki efek negatif? Sebenarnya makan sirih dan pinang sama halnya
dengan kebiasaan minum kopi, teh atau mengisap rokok. Pada mulanya setiap orang
yang menginang (makan sirih dan pinang) tidak lain untuk penyedap mulut.
Kebiasaan ini kemudian berlanjut menjadi kesenangan dan terasa nikmat sehingga
sulit untuk dilepaskan. Kebiasaan menginang di samping untuk kenikmatan juga
berfungsi sebagai obat untuk merawat gigi, terutama agar gigi tidak rusak atau
berlubang. Budaya mengonsumsi sirih ternyata
dapat mengakibatkan panyakit periodontal jika ditinjau dari sisi kedokteran
gigi. Penyebab terbentuknya penyakit periodontal adalah kalkulus atau karang
gigi akibat stagnasi saliva pengunyah sirih karena adanya kapur
Ca(OH)2.Gabungan kapur dengan pinang mengakibatkan respon primer terhadap
formasi oksigen reaktif dan mungkin mengakibatkan kerusakan oksidatif pada DNA
di bukal mukosa penyirih. Kepercayaan bahwa mengunyah sirih dapat menghindari
penyakit mulut seperti mengobati gigi yang sakit dan nafas yang tak sedap
kemungkinan telah mendarah daging diantara para penggunanya. Padahal efek
negatif menyirih dapat mengakibatkan penyakit periodontal atau gusi dengan
adanya lesi-lesi pada mukosa mulut seperti sub mucous fibrosis, oral premalignant dan bahkan
dapat mengakibatkan kanker mulut.Kapur yang digunakan dalam mengonsumsi sirih
pinang sebenarnya mengandung manfaat untuk kesehatan periodontal karena
mengandung zat-zat kitin yang bermanfaat untuk kesehatan periodontal. Hal yang
menjadi masalah di sini adalah produk kitin yang digunakan dalam meminang dapat
merusak periodontal secara mekanis yaitu dalam bentuk serbuk/bubuk kapur.
Fungsi menginang yang lain yaitu menyangkut tata pergaulan dan tata nilai
kemasyarakatan. Hal ini tercermin dari kebiasaan menginang, hidangan
penghormatan untuk tamu, sarana penghantar bicara, sebagai mahar perkawinan,
alat pengikat dalam pertunangan sebelum nikah, untuk menguji ilmu seseorang,
dan sebagai pengobatan tradisional. Bahkan menginang juga digunakan sebagai upacara
dan sesaji yang menyangkut adat istiadat serta kepercayaan dan religi
masyarakat.
Tamu biasanya disuguhi sirih pinang dulu dalam bertamu. Hal tersebut merupakaan suatu kehormatan dan tamu wajib untuk mencobanya. Barulah kopi, teh atau makanan lain yang disuguhkan setelah makan sirih pinang. Kebiasaan-kebiasaan memamah sirih pinang selain dalam kehidupan sehari-hari dapat kita temui juga dalam hal-hal berikut:
Tamu biasanya disuguhi sirih pinang dulu dalam bertamu. Hal tersebut merupakaan suatu kehormatan dan tamu wajib untuk mencobanya. Barulah kopi, teh atau makanan lain yang disuguhkan setelah makan sirih pinang. Kebiasaan-kebiasaan memamah sirih pinang selain dalam kehidupan sehari-hari dapat kita temui juga dalam hal-hal berikut:
1.Hidangan Penghormatan
Hal ini tergambar dalam kebiasaan-kebiasaan menginang bersama, hidangan penghormatan untuk tamu, hidangan atau sarana pengantar bicara dan lain-lain. Kebiasaan ini terjadi dalam masyarakat dahulu hingga sampai saat ini pada masyarakat kota dan pedalaman tidak meninggalkan budaya ini dalam kehidupan mereka.
Hal ini tergambar dalam kebiasaan-kebiasaan menginang bersama, hidangan penghormatan untuk tamu, hidangan atau sarana pengantar bicara dan lain-lain. Kebiasaan ini terjadi dalam masyarakat dahulu hingga sampai saat ini pada masyarakat kota dan pedalaman tidak meninggalkan budaya ini dalam kehidupan mereka.
2.Acara-acara Adat
Dalam upacara-upacara adat juga sirih pinang tidak bisa ditinggalkan dalam kehidupan masyarakatnya. Misalnya dalam upacara tiwah, deder kandayu, karungut, balian, nyangiang, mapas lewu, upacara pisek, pakaja panganten, dan waktu-waktu lainnya. Kebiasaan tersebut tidak bisa ditinggalkan dalam kehidupan masyarakat. Ini digunakan untuk mempererat tali persaudaraan masyarakatnya. Bahkan sirih pinang juga selalu ada pada setiap sesaji yang diberikan bagi arwah-arwah nenek moyang dalam sebagian acara seperti diatas.
3.Acara Pertunangan/Perkawinan
Sebelum perkawinan ada upacara yang dikenal dengan pertukaran cincin (pertunangan). Menyiapkan perlengkapan sirih dan pinang dan perlengkapan lainnya merupakan suatu kewajiban dan harus ada bagi para tamu dan undangan yang hadir. Ini merupakan waktu-waktu yang special untuk makan ssirih dan pinang secara bersama-sama. Begitu juga pada saat perkawinan tiba hal tersebut merupakan makanan wajib yang harus ada disiapkan untuk para tamu. Seandainya tidak ada maka ada perasaan yang kurang puas dalam hati dari yang punya acara/kegiatan.
Jelaslah bahwa budaya menginang pada masyarakat Kalimantan sudah menjadi budaya yang tidak mengenal umur, ras, pangkat, golongan. Hal tersebut menjadi kebiasaan yang mengakar kuat dalam masyarakat sehingga dapat mempererat tali persaudaraan dalam keseharian kehidupan masyarakatnya. Kebiasaan ini harus tetap dijaga dan dilestaarikan asalkan tidak merugikan orang lain…..
source: http://senibudaya12.blogspot.com/2012/05/sirih-dan-pinang-nginang.html
http://avinaninasia.wordpress.com/2011/09/14/sirih-pinang-budaya-yang-mengancam-kesehatan/
Langganan:
Postingan (Atom)










